Pokémon dan Aspek Sosial yang Tetap Bertahan

Pokémon dan Aspek Sosial yang Tetap Bertahan - Banyak hal berubah di dunia game. Unlockable item diganti dengan DLC, dan game fisik diganti game digital hanya beberapa di antaranya. Tapi jika ada satu yang nyaris tetap sama adalah Pokémon.

Pokémon dan Aspek Sosial yang Tetap Bertahan


Di awal permainan, gamer selalu dihadapkan masalah yang sama: memilih satu di antara tiga pilihan Pokémon starter. Pokémon elemen Grass, Fire, atau Water? Pilihlah dengan bijak karena ia akan menemanimu sepanjang petualangan.

Pokémon menjadi salah satu seri game yang mempertahankan formula utama yang sama selama belasan tahun. Kuno kah? Tidak, karena formula utama itu selalu dikembangkan tapi tidak pernah keluar dari rel.

Formula lain yang khas Pokémon adalah fitur sosial. Di generasi pertama, salah satu Pokémon terkuat adalah Alakazam. Tapi untuk mendapatkannya sangat tidak mudah. Pertama, Abra sangat sulit ditangkap karena selalu kabur (sangat mirip keluarga Metal Slime di Dragon Quest). Kedua, setelah berevolusi jadi Kadabra kamu tak bisa begitu saja mengevolusikannya jadi Alakazam.

Satu-satunya cara adalah dengan trading. Nah di sinilah kamu dituntut untuk membawa handheld-mu (entah Game Boy atau Game Boy Advance) ke rumah teman atau ketemuan di taman. Sang kreator, Satoshi Tajiri, sengaja memasukkan fitur ini dengan tujuan agar gamer bersosialisasi.

Dulu hal tersebut merupakan satu-satunya cara karena internet belum semarak sekarang. Saat internet sudah marak, muncul permintaan agar Pokémon dirilis di konsol, tak cuma di handheld. Alasannya, toh elemen semacam trading bisa memanfaatkan medium jaringan internet.

Tapi Tajiri bergeming. Ia memutuskan Pokémon tetap eksklusif untuk handheld Nintendo. Alasannya menarik, Tajiri ingin agar gamer tetap membawa handheld mereka ke rumah teman untuk mengakses fitur-fitur khusus, agar mereka bermain bersama.

Pokémon Dobrak Anggapan Game Penyebab Antisosial
Melihat kondisi terkini, Tajiri ingin mendobrak anggapan game menyebabkan perilaku antisosial. Wajar, karena kebanyakan game tidak mendorong adanya interaksi antara gamer. Kalaupun ada itupun sebatas di dunia maya. Well, pengecualian untuk tabletop game ya.

Apa yang bisa dipetik? Kendati tak banyak, tidak semua game bisa dicap menyebabkan perilaku antisosial. Pokémon sudah menjadi buktinya. Tidak cuma 1 atau 5 tahun, tapi 18 tahun.

Satu lagi, idealisme Tajiri tetap bisa diterima selama game buatannya punya desain game yang membuat gamer betah mainkan serta menunggu sekuel atau remake-nya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Pokémon dan Aspek Sosial yang Tetap Bertahan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel